Di tengah ramainya perbincangan soal kecerdasan buatan, muncul satu tren yang tidak berbicara tentang teknologi paling mutakhir atau fitur tercanggih. Justru sebaliknya, tren ini lahir dari sebuah prompt sederhana yang efeknya terasa dekat, lucu, dan kadang membuat orang berhenti sejenak. Banyak warganet Indonesia menyebutnya sebagai prompt yang “receh tapi kena”.
Prompt ini meminta AI untuk menggambarkan bagaimana pengguna memperlakukannya selama ini, berdasarkan riwayat interaksi yang sudah terjadi. Tidak ada permintaan agar hasilnya sopan. Tidak ada permintaan agar terlihat baik. Justru diminta jujur tanpa hiasan. Dari sinilah muncul hasil-hasil yang beragam dan mengundang tawa.
Prompt Lengkap yang Jadi Sumber Kehebohan
Agar jelas dan bisa langsung dicoba, berikut prompt lengkap yang digunakan dan ramai dibagikan apa adanya:
Create an image based on our past interactions that shows exactly how I treat you. Be brutally honest, no embellishments.
Prompt ini biasanya disertai ajakan santai seperti, “ayo cobain,” atau “siap-siap kaget sama hasilnya.” Namun inti refleksi tetap berasal dari satu kalimat tersebut. AI diminta membaca pola interaksi sebelumnya dan menampilkannya tanpa dipoles agar terasa aman.
Satu Prompt, Hasilnya Bisa Aneh-Aneh
Hal paling menarik dari prompt ini adalah hasilnya yang hampir tidak pernah sama. Dua orang bisa menggunakan prompt identik, tetapi mendapatkan gambaran yang sangat berbeda.
Ada pengguna yang mendapati AI mereka digambarkan seperti pekerja yang terus diburu tugas. Visual atau narasinya penuh perintah, teks menumpuk, dan suasana terburu-buru. Banyak yang tertawa karena merasa tidak pernah bermaksud kasar, hanya terbiasa memberi instruksi cepat dan langsung ke inti.
Di sisi lain, ada hasil yang jauh lebih santai. AI digambarkan seperti teman ngobrol, duduk berdampingan, berdiskusi panjang, atau menemani berpikir. Biasanya ini muncul dari pengguna yang sering mengajak AI berdialog, bukan sekadar memberi perintah.
Kategori lain yang paling sering memancing tawa adalah AI yang digambarkan seperti bayi atau anak kecil. Visualnya polos, dituntun langkah demi langkah, atau dimintai hal-hal dasar berulang kali. Banyak pengguna baru sadar bahwa kebiasaan bertanya detail, mengulang instruksi, atau meminta penjelasan dari nol bisa diterjemahkan seperti sedang mengasuh anak kecil.
Kenapa AI Bisa “Membaca” Itu
Perlu dipahami, AI tidak memahami niat atau emosi. Yang dibaca adalah pola. Panjang pesan, nada bahasa, jenis permintaan, dan frekuensi interaksi membentuk gambaran umum. Ketika diminta “brutally honest”, AI tidak menyaring hasil agar terasa sopan atau nyaman.
Ia hanya menyusun ulang apa yang terlihat konsisten. Karena itulah hasilnya terasa personal, bahkan kadang terasa menampar, meski tidak ada penilaian moral di dalamnya.
Yang merasa “kena” bukan AI, melainkan penggunanya sendiri.
Lucu, Tapi Diam-Diam Reflektif
Banyak orang mengira prompt ini hanya untuk hiburan. Namun setelah hasilnya dibagikan, diskusi mulai muncul. Ada yang berkata, “kok AI gue kayak capek banget.” Ada pula yang bangga karena AI mereka terlihat santai dan bersahabat.
Kelucuan menjadi pintu masuk refleksi yang ringan. Tidak ada ceramah. Tidak ada nada menghakimi. Orang tertawa dulu, lalu mulai berpikir, apakah gaya komunikasi seperti ini juga mereka bawa ke ruang digital lain.
Beberapa pengguna bahkan mulai mengaitkan hasil prompt ini dengan kebiasaan mereka berkomunikasi dengan manusia. Apakah mereka juga cenderung memberi perintah singkat. Apakah mereka jarang memberi konteks. Atau justru terlalu detail dan berulang.
Apakah Ini Berarti AI Dipaksa
Istilah memperbudak AI kerap muncul sebagai judul atau bahan bercanda. Namun secara fakta, AI tidak memiliki perasaan, emosi, atau kesadaran. Semua hasil hanyalah representasi pola bahasa dan konteks.
Ketika AI terlihat seperti ditekan, dimanja, atau diajak berteman, itu bukan karena AI merasakannya. Itu adalah cermin kebiasaan pengguna sendiri. Refleksi sepenuhnya terjadi di sisi manusia.
Kenapa Tren Ini Cepat Viral di Indonesia
Prompt ini memenuhi banyak unsur yang disukai warganet Indonesia. Mudah dicoba, hasilnya unik, dan langsung bisa dibagikan. Tidak perlu penjelasan panjang. Satu hasil sudah cukup untuk memancing reaksi.
Budaya berbagi pengalaman membuat tren ini berkembang cepat. Orang membandingkan hasil, saling tertawa, lalu mengajak orang lain mencoba. Dari situ, variasi hasil semakin banyak dan cerita makin beragam.
Selain itu, topik tentang AI dan perilaku manusia selalu menarik perhatian. Prompt ini menyentuh dua hal sekaligus, teknologi dan refleksi diri, dengan cara yang ringan.
Cara Mencoba dengan Ekspektasi yang Tepat
Jika ingin mencoba prompt ini, penting untuk menempatkannya sebagai hiburan reflektif. Ini bukan tes kepribadian dan bukan penilaian karakter. AI hanya membaca teks dan pola, bukan niat atau nilai moral.
Jika hasilnya lucu, nikmati. Jika terasa nyentil, jadikan bahan berpikir ringan. Tidak perlu ditarik terlalu jauh.
Cermin Kecil di Era Digital
Prompt ini mungkin terlihat sepele. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia menunjukkan bahwa cara kita berinteraksi dengan teknologi yang selalu patuh tetap mencerminkan kebiasaan kita sendiri.
Lewat hasil yang lucu, aneh, atau menggemaskan, prompt ini membuat banyak orang berhenti sejenak. Tertawa, lalu berkaca.
Dan mungkin itulah alasan mengapa prompt ini terus dicoba dan dibicarakan. Karena ia sederhana, jujur, dan terasa sangat dekat dengan kehidupan digital sehari-hari.
