Kenapa Scrolling Media Sosial Bikin Capek? Penjelasan Psikologis di Balik Kebiasaan Sehari Hari

Scrolling media sosial telah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Aktivitas ini sering dilakukan tanpa rencana, mengisi waktu luang, atau sekadar mengalihkan pikiran dari penatnya pekerjaan. Posisi tubuh santai, jari bergerak perlahan, dan tidak ada aktivitas fisik berat membuat scrolling kerap dianggap sebagai bentuk istirahat.

Namun pengalaman yang dirasakan sering kali tidak sejalan dengan anggapan tersebut. Setelah scrolling cukup lama, tubuh justru terasa lebih lelah. Kepala berat, konsentrasi menurun, emosi lebih sensitif, dan pikiran terasa penuh. Kondisi ini kerap membingungkan karena tidak ada aktivitas fisik yang menguras tenaga.

Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai digital fatigue, yaitu kelelahan mental akibat paparan rangsangan digital yang berlebihan dan berlangsung terus menerus.

Ilusi istirahat yang menipu

Scrolling media sosial memberi kesan istirahat karena tubuh berada dalam posisi diam. Duduk atau rebahan membuat seseorang merasa sedang memulihkan energi. Namun bagi otak, kondisi ini tidak dibaca sebagai waktu jeda.

Setiap konten yang muncul di layar menuntut perhatian. Otak memproses visual, teks, suara, serta konteks emosional dalam waktu singkat. Proses ini terjadi berulang kali tanpa jeda yang jelas. Berbeda dengan istirahat yang sesungguhnya, scrolling tidak memberi ruang bagi otak untuk benar benar berhenti.

Akibatnya, meski tubuh tidak bergerak, otak tetap bekerja dalam intensitas tinggi. Inilah yang membuat scrolling terasa ringan di awal, tetapi melelahkan setelah berlangsung lama.

Keputusan mikro yang terus menumpuk

Di balik setiap geseran layar, terdapat proses pengambilan keputusan kecil. Apakah konten ini menarik, apakah perlu ditonton sampai selesai, apakah akan diberi respons atau dilewati. Proses ini disebut pengambilan keputusan mikro.

Dalam satu sesi scrolling, keputusan kecil tersebut bisa terjadi ratusan kali. Masing masing terasa sepele, tetapi akumulasinya menguras energi mental. Kondisi ini dikenal sebagai decision fatigue.

Ketika energi mental terkuras oleh keputusan kecil yang terus menerus, kemampuan untuk fokus, berpikir jernih, dan mengatur emosi ikut menurun. Inilah sebabnya seseorang sering merasa cepat lelah dan sulit berkonsentrasi setelah scrolling lama.

Perpindahan emosi yang terlalu cepat

Media sosial menyajikan beragam emosi dalam waktu singkat. Dalam beberapa menit, seseorang bisa tertawa karena video hiburan, lalu merasa cemas akibat berita buruk, kemudian kagum melihat pencapaian orang lain, dan kembali terganggu oleh iklan atau konflik.

Otak dipaksa berpindah emosi dengan sangat cepat. Sistem saraf harus terus menyesuaikan respons emosional tanpa memiliki waktu pemrosesan yang cukup. Kondisi ini membuat otak berada dalam keadaan waspada terus menerus.

Setelah scrolling berhenti, kelelahan emosional sering baru terasa. Pikiran menjadi penuh dan sulit kembali tenang, meski ponsel sudah disimpan.

Perbandingan sosial yang menguras energi mental

Media sosial jarang menampilkan kehidupan secara utuh. Yang muncul di linimasa adalah versi terbaik dari hidup orang lain. Prestasi, gaya hidup, liburan, karier, dan penampilan fisik disajikan dalam bentuk paling ideal.

Tanpa disadari, otak membandingkan semua itu dengan kehidupan pribadi yang penuh proses dan tantangan. Perbandingan ini sering berlangsung otomatis dan tidak selalu disadari sebagai sumber stres.

Perasaan tertinggal, tidak cukup baik, atau cemas terhadap masa depan bisa muncul secara perlahan. Emosi semacam ini menguras energi mental dan berkontribusi pada rasa lelah setelah scrolling panjang.

Dopamin instan yang cepat habis

Media sosial dirancang dengan sistem reward yang tidak dapat diprediksi. Kadang kontennya sangat menarik, kadang terasa biasa saja. Ketidakpastian ini mendorong otak untuk terus menggulir layar.

Setiap kali menemukan konten yang menyenangkan, otak melepaskan dopamin, zat kimia yang memicu rasa senang. Namun dopamin dari media sosial bersifat instan dan tidak bertahan lama. Setelah efeknya mereda, otak terdorong untuk mencari rangsangan berikutnya.

Siklus ini membuat seseorang merasa lelah tetapi tetap sulit berhenti scrolling. Tubuh memberi sinyal capek, sementara otak masih mengejar kepuasan singkat berikutnya.

Gangguan pemulihan tubuh dan tidur

Kelelahan akibat scrolling menjadi lebih berat ketika dilakukan menjelang tidur. Paparan cahaya layar mengganggu ritme biologis tubuh, sementara konten emosional membuat otak tetap aktif saat seharusnya mulai beristirahat.

Tidur yang dihasilkan menjadi kurang berkualitas. Proses pemulihan fisik dan mental tidak berjalan optimal. Akibatnya, rasa lelah tidak hanya dirasakan saat scrolling, tetapi juga terbawa hingga hari berikutnya.

Bukan satu jenis kelelahan

Rasa capek setelah scrolling bukan berasal dari satu faktor tunggal. Yang terjadi adalah kombinasi kelelahan kognitif akibat pemrosesan informasi terus menerus, kelelahan emosional dari paparan konten dan perbandingan sosial, decision fatigue dari akumulasi keputusan mikro, serta gangguan pemulihan tubuh akibat kualitas tidur yang menurun.

Ketika semua faktor ini terjadi bersamaan, tubuh dan pikiran memberi sinyal berupa rasa lelah, sulit fokus, dan emosi yang tidak stabil.

Mengelola kebiasaan scrolling dengan lebih sehat

Digital fatigue bukan alasan untuk meninggalkan media sosial sepenuhnya. Namun kondisi ini menjadi pengingat bahwa otak membutuhkan batasan.

Langkah sederhana seperti memindahkan aplikasi media sosial dari layar utama ponsel, menentukan jam khusus untuk scrolling, dan memberi jeda tanpa layar terutama di malam hari dapat membantu mengurangi beban mental.

Mengganti scrolling tanpa tujuan dengan aktivitas singkat yang memberi ketenangan nyata, seperti membaca, berjalan santai, atau sekadar diam tanpa layar, memberi kesempatan bagi otak untuk benar benar beristirahat.

Pada akhirnya, rasa lelah setelah scrolling adalah sinyal biologis yang perlu didengar. Istirahat yang dibutuhkan bukan hanya berhenti bergerak, tetapi berhenti sejenak dari arus rangsangan digital yang terus mengalir. Dengan penggunaan yang lebih sadar, media sosial tetap bisa dinikmati tanpa harus mengorbankan energi mental dan kualitas hidup sehari hari.